Friday, 26 May 2017

Istri Bekerja vs Istri di Rumah

Percayalah, untuk urusan ini saya sudah pernah menjalani keduanya, baik menjadi pure IRT maupun istri yang bekerja.
jadi gimana rasanya?
itu sih balik lagi ke diri perempuan masing-masing karena tiap wanita memiliki passion yang berbeda.
ada yang sudah cukup bahagia dengan hanya dirumah saja mengerjakan tetek bengek dunia IRT, ada juga yang memang passionnya berkarir dan mungkin bisa stres jika hanya di rumah saja.
semua ada plus minusnya sih..

lalu gimana saya?
Saya ternyata termasuk tipe yang kedua. ehehehehe...
Ada beberapa faktor yang membuat saya lebih nyaman menjadi wanita karir (selain faktor pribadi yang ga bisa saya jelaskan disini).

Kenapa lebih suka jadi wanita karir?
1. Saya termasuk tipe dominan
Kalo dikasih tes psikologi semacam DISC dan tes kepribadian ala Hipocrates-Galenus pasti hasilnya saya ini tipe Dominan-Koleris. Kebayang lah kerasnya kyk batu 😛
Dengan bekerja saya bisa menyalurkan sifat dominan dan bossy (ups) nya saya ke tim, plus ke target2 kerja yang ada.

2. Bosenan
Pernah ngerasain almost 24 jam dalam 7 hari ada dirumah saja mengerjakan tugas IRT yg berkutat dg alat masak-alat bebersih-jejemuran-setrikaan. Syumpah kalo ndak passionnya kamu bakal menjalani hari2mu setengah modyar. Ujung-ujungnya stres, depresi.

3. Ada kepuasan tersendiri kalo bs OOTD-an alias dandan n mixmatch baju tiap weekdays, sedih kalo cuma bs dasteran tiap hari.

4. Bisa ketemu banyak orang, dapet cerita dan ilmu baru tiap hari. Aahh love it!

5. Bisa saling share cerita seputar perkantoran sama pak suami.

6. Bisa sesekali 'escape' dari tetek bengek kerumahtanggaan demi menjaga kewarasan diri 😛 (jujur sekali yak)

7. Saya tipe yg banyak pengen, jd puas aja kalo bisa beli apa2 pake dana sendiri. Ehehee..

Lantas apakah menjadi istri yg bekerja dirumah saja itu kastanya lebih rendah?
Wooo...jelas tidak!
Malah menurut saya keren lho yg bs bertahan jd IRT full dan sanggup bertahan dg rutinitas pekerjaan rumah tangga.
Keren ketika setiap hari punya waktu utk membuatkan bekal makan siang utk suami,
Keren karena bisa selalu menjaga agar rumah tertata rapi,
Keren karena waktu utk beribadah khusyuk (harusnya) lebih banyak,

Antara IRT dan Istri bekerja tidak ada yg levelnya lebih tinggi atau lebih rendah, semua tergantung pilihan masing2 dan ada kelebihan masing2 untuk dapat dibanggakan.

So, ladies, kamu termasuk yang mana?

Monday, 8 August 2016

Chiko kena Hernia??

Ceritanya peliharaan nambah 1 lagi dan motif bulunya masih sama, temputih. Kami beri nama Chiko. Usia nya masih sekitar 1 bulan pas dia nyamper rumah. Memang kalo dibandingin sama Momo, dia kurang lincah dan suhu badannya cenderung sering lebih tinggi daripada Momo.
Suatu hari pas saya uyel2 badannya saya nemuin benjolan kecil di daerah perut bagian kanan. Saya kira itu hal yang wajar untuk kitten, toh Momo dulu juga gitu. Tapi ternyata dari hari ke hari benjolan makin besar hingga kami putuskan untuk bawa dia berobat ke klinik hewan.

Sebelumnya saya udah searching tentang perkiraan benjolan itu, dari web2 yang saya kunjungi rata2 menyebutkan gejala yang dialami Chiko kemungkinan adalah hernia. Setelah di cek, dokter pun memperkirakan Chiko terkena hernia atau tumor dan jalan satu-satunya dengan melakukan operasi untuk mengeluarkan benjolan. Sayangnya saat itu hari Minggu, jadi dokter spesialis yang biasa melakukan operasi sedang libur. Dokter muda menyarankan untuk kembali di hari Senin-Sabtu.
Karena abang Cuma bisa bawa Chiko di weekend, maka kami putuskan untuk bawa Chiko di hari Sabtu berikutnya. Selama 5 hari itu saya amati benjolan tumbuh besar dengan cepat. Hari Jumat benjolan sudah sebesar bola bekel dan keluar rembesan air dari perut Chiko. Isi perutnya udah kyk mau jatuh L
Jadilah Sabtu pagi kami datang kembali ke Klinik Hewan.
Klinik terdekat dari rumah kami adalah Klinik Anugerah Satwa. Beralamat di :
Jl. Ciater Barat Raya
Taman Tekno no.84
BSD City - Tangerang Selatan 
02175884408/75884407

Sampai disana kami langsung menitipkan Chiko untuk ditangani.
Perkiraan biaya saat itu sebesar Rp. 1,5 juta exclude obat dan collar (penyangga leher) dan Chiko bisa dibawa pulang setelah operasi. Gak pake rawat inap seperti kasus kucing2 lain yang saya lihat di blog2.
Yaweslah yaa, demi kamu, le. Rejeki mah bakal keisi lagi kan..
Sabtu tanggal 27 Juli 2016 dilakukan tindakan operasi. Karena kami ada urusan lain, jadi dia dititipkan selama sehari. Hari Minggu kami jemput dia dalam keadaan sudah dioperasi dan dari Dokter kami mendapatkan info bahwa benjolan Chiko bukan karena hernia, tapi karena bakteri yang menyerang kelenjar pertahanan yang ada di daerah dekat kaki kanan. Jadi isi benjolan itu hanya berupa cairan nanah dan darah.
Ada 2 bekas “belekan” di tengah perut dan satu lagi belekan kecil di bagian kanan tepat benjolan. Alhamdulillah operasi lancar, dokter yang menangani pun memberikan informasi dengan lengkap dan jawaban dari pertanyaan2 yang kami ajukan cukup memuaskan.
Dari keseluruhan tindakan itu, berikut rincian biayanya :

Biaya operasi dan menginap sehari + 
Obat (antibiotik, diuretik, anti nyeri) ................................ Rp. 1.500.000
Collar ................................................................................. Rp. 45.000

Total : Rp. 1.545.000

(tadinya mau fotoin kwitansinya aja, ternyata udah kebuang. hee maapp)

Dan Chiko diserahkan dalam keadaan collar sudah terpasang dan perut penuh plester luka. Jadi inget film monster inc yang para monsternya dipasangi collar setelah terinfeksi manusia..hehe.
Ini Chiko dan collarnya..


Fungsi collar agar dia tidak bisa menggigit plester dan menjilat luka yang nantinya bikin infeksi.
Adapun obat yang didapat berupa obat oral padat : antibiotic, anti nyeri, dan diuretic untuk mengeluarkan cairan dari benjolan tsb.

Di hari ke-4 saat buka plester, ternyata jahitan di daerah benjolan ada yang putus dan mengeluarkan banyak cairan dan sedikit darah,mungkin sempat dijilat/digigit Chiko saat collarnya dilepas agar bisa makan leluasa. Jadilah kami balik lagi ke dokter hari itu juga dan Chiko dijahit ulang.
Kali ini saya lihat sendiri prosesnya. Jika pada operasi sebelumnya Chiko dibius total, pada jahit ulang ini dia hanya diberikan spray agar kulitnya baal. Tapi tetep aja dia teriak2 pilu. Emaknya yang lihat pun ga tegaaa.. akhirnya dia diberi bius local.
Beruntung dokter muda dan petugasnya telaten pegangin dan jagain Chiko. Erangan Chiko baru reda setelah saya bantuin pegang dia. Oalah nak…
Setelahnya kami pulang dengan tambahan obat : anti radang, antibiotic, salep.  Untuk tindakan jahit ulang free, Cuma perlu bayar obatnya aja. Menurut saya salepnya bekerja sangat baik, dalam waktu 2 hari bekas jahitan sudah mongering dan sekarang tinggal proses penggendutan Chiko aja karena setelah sakit kemarin badannya jadi susut banyak.
Yang paling gak bisa saya lupa adalah perlakuan petugasnya yang memang bener-bener pake hati dalam merawat hewan-hewan pasien klinik. Wajar jika klinik ini cukup ramai pasien.
Ini benjolan Chiko..

Bekas jahitan dan benjolan sekarang..



info tambahan buat kalian yang berdomisili di Jakarta dan lagi cari RS untuk hewan kesayangan, ni beberapa rekomendasi RS/ Klinik :
1. Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ)
    Jl. Harsono RM No. 28 Jakarta
    021 - 7891093, 7891091

2. Pondok Pengayom Hewan Jakarta (PPSJ)
    Jl. Harsono RM no. 10, Jakarta
    021 - 7819617

Klinik Hewan di Bogor :
1. Klinik Hewan IPB 
    Jl. Taman Kencana 3X, Kampus IPB Taman Kencana, Bogor
    0251 - 323137


Well, semoga info yang ada di postingan kali ini dapat membantu.

doakan Chiko segera sembuh dan gendut yaaa ^^

Thursday, 30 June 2016

Kamu jangan takut kehilangan aku, kita ini satu....

-Habibi & Ainun-

Thursday, 26 May 2016

.

Dulu..
Saya pikir saya tak akan mampu berjalan bersama dengan segala kepribadiannya.
Tapi sekarang baru sadar,
Saya lebih tidak sanggup lagi hidup tanpa bersamanya.

Hidup memang,
Masih bernyawa memang
Tapi hampa.

Saturday, 20 February 2016

(Sampai Kapanpun) Masih Kecil

Masih kecil dan akan selalu seperti anak kecil. Seperti itulah kita dimata orang tua. Iya ga sih? Ya kaan....?

Sejak kecil bahkan sejak usia 2 hari takdir membawa saya ke dalam timangan nenek. Jadilah saya anak nenek. Kemana-mana dibawa. Ke Bandung dibawa, balik lagi ke Sidoarjo ikut jua. Begitulah..berlindung di ketek nenek. Sampai akhjrnya lulus kuliah, kerja dan cukup dewasa untuk menikah.
Tiap saya mudik ketemu nenek pasti kalo mau masak diikutin. Bikin mie, dibenerin cara bikinnya. Mie instan doank lho maak...
Lalu saat bikin sambel, diajarin cara bikinnya seakan2 saya anak kecil yang baru belajar nyambel. Padahal everyday is sambel day.
Sampe tiap pulang mudik, pasti dikasih uang saku. Saya tolak kalo saya lagi kece, malah saya beri tambahan buat beliau. Tapi ga jarang kalo lagi kere ya diterima aja. 
Seperti hari ini.. Sungguh hal yang bikin sempet jleb berkaca2 pas nenek nyodorin uang saku dan bilang "buat beli es krim". Kalimat yang sbnrnya lebih cocok untuk saya saat masih TK ato SD. Hihii..

I'll be your little daughter, forever.

Wednesday, 17 February 2016

Era Digital, Bagaimana Nasib Koran?

Gambar diambil dari sini


Hayooo ngaku, kapan terakhir kali pegang koran?
dipake apa? dibaca? atau malah dijadiin bungkus barang? hehe...
jaman dulu di setiap daerah banyak loper koran yang tiap pagi naik sepeda datengin satu-persatu rumah pelanggannya demi mengantarkan koran teranyar.
Tradisi baca koran sambil ngopi tiap pagi pun menjadi  hal yang lumrah untuk sebagian besar penduduk Indonesia. Kalo ga sempet baca di rumah, koran bisa dibawa untuk dibaca di kantor sambil duduk-duduk selow ala para P*S yang lalu lupa kerja.

Dulu rasanya mudah ditemui lapak-lapak penjual koran, jenisnya macam-macam, mulai dari koran harian, koran khusus bisnis, hingga koran lampu merah yang judul beritanya aja udah cetarrr menarik pembaca. Pun saat di lampu merah, tidak asing terdengar suara, "koran..koran...koran baru hari ini, satu lagi koruptor ditangkap". 

Di era digital, orang sudah tidak perlu mencari koran untuk mengetahui berita terkini. Berita ada di segenggaman tangan dan tekanan jempol. Tidak perlu menunggu loper koran setiap pagi, tinggal klik judul yang ingin dibaca, dalam beberapa detik (kalo sinyal ciamik) kita sudah disuguhkan berita yang ingin dibaca.


Bisa dijelaskan kenapa era koran meredup. Sedikit opini saya, antara lain :
  • Eranya serba paperless, demi melestarikan lingkungan, jadi kita meminimalisir penggunaan kertas yang sumbernya dari kayu/pohon. Dulu perlu nebangin pohon-pohon untuk dijadikan kertas. Sedangkan sekarang untuk memunculkan berita digital, si penulis hanya butuh laptop, ketak-ketik, kirim ke produser/editor by e-mail untuk dikoreksi, pake laptop ato pc juga, kalo proses sudah kelar dan ada approval final bisa langsung diunggah deh. kurang lebih gitu prosesnya.
  • Proses pembuatan koran lamaaa...perlu beberapa tahap sebelum akhirnya sampai di tangan para pembaca setianya, sedangkan proses pembuatan berita digital lebih singkat.
  • Masyarakat sedang gandrung socmed. Untuk mengetahui berita terkini tidak perlu cari koran ato e-newspaper. Tinggal kepoin twitter atau FB saja untuk tahu beberapa inti berita yang sedang hits.
  • Biaya. Membeli koran seharga Rp. 2.000 untuk mendapatkan berita yang terbatas sedangkan dengan Rp. 2.000 pula masyarakat sudah bisa puas baca berita yang diinginkan, lebih banyak dari berita yang dibaca di koran. Tentu ini juga tergantung provider yang digunakan...

Memang koran masih memiliki peminat, tapi jumlahnya makin jauh menurun dibanding tahun 90-an karena satu-persatu masyarakat mulai menikmati kemudahan dari apa yang disebut "online".
Hal ini pastinya berdampak juga kepada para penjaja koran. Populasinya pun ikut menurun dan sudah jarang ditemui di pinggir-pinggir jalan.

Ya, era digital memang memudahkan manusia, tapi perlahan dapat memusnahkan koran dan para penjajanya.

Tuesday, 16 February 2016

Cara Merawat Kucing

Post ini dibuat karena si Mamaknya ini lagi kangen Momo.. Lagi LDR an ama Momo ceritanya.
Saya di Bandung dan dia di Bogor. Sabar nak, Minggu ini emak balik...kalo si abang udah kangen udah bosen di Bandung *eh

Seperti yang pernah saya ceritain di postingan sebelumnya kalo saya udah sekitar 3 bulanan ini jadi emaknya kucing. Seumur-umur kalo ada kucing bawaannya gemes. Itu aja sih...
dulu pun sempet ngerawat kucing tapi ga full ngurusin. Baru sekarang ini lah saya jadi "full time mom" buat Momo, Si Pus peliharaan.

Setelah hampir 3 bulan bersama, kami makin dekat, makin sayang, makin tak bisa pisah (yang terakhir ini boong) 
-_-
dari yang canggung sampe yang cukup ngerti gimana cara ngerawat makhluk berbulu tersebut. Kenapa saya sampe niat belajar ngerawat sendiri semua kebutuhan si puss? karena lumayan ongkos yaa sist kalo tiap bulan ke pet shop buat nyalon nya si pus. Maknya aja udah jarang nyalon sekarang. huuhuuu...
Jadi ga ada salahnya ngerawat sendiri mulai dari A-Z. Selain irit, biar makin sayang ajah ama si puss.
Memang masih newbie sih, tapi ga ada salahnya kaan kalo saya share pengalaman saya ngerawat kucing..


Berikut cara saya merawat si Momo :
  1. Memandikan


  • siapkan dulu air hangat. syukur2 kalo ada heater di rumah yaak.
  • siapkan handuk kecil, sabun khusus kucing (kalo ga ada bisa diganti sunlight jeruk nipis agar kutu enyah dari badan si kucing)
awalnya begitu tau bakal dimandiin si pus pasti bakal berontak, jadi dia perlu disayang dulu. Dielus kepala aja sampe tenang dulu, baru siap dimandiin.
  • Pegang leher kucing, biar dia ga ngibrit. Tapi jangan terlalu keras...yang penting bikin dia anteng aja.
  • Guyur badan kucing dengan air hangat, guyur pelan2 yaa. Biasanya dia bakal berontak bentar tapi setelah itu tenang-tenang aja kok. Entah tenang entah pasrah :p
  • Aplikasikan shampoo kucing, bersihkan badan kucing dengan lembut.
  • Bilas sampe bersiihh. Karena ternyata kulit kucing cepat menyerap air, jadi kasian kan kalo dia kebanyakan nyerap air sabun :(
  • Keringkan dengan handuk. kalo mau lebih kering lagi bisa pake hair dryer setelahnya.
Frekuensi mandiin kucing ga perlu sering-sering toh dia udah bisa mandi sendiri jg kan. Boleh sebulan sekali atau pas kucing udah keliatan dekil.
Kalo saya sih hampir seminggu sekali mandiinnya.

2. Memotong kuku

sebenernya untuk potong kuku ada alat tersendiri, bentuknya seperti ini

diambil dari sini














tapi kalo belum punya gunting kuku khusus kucing bisa kok pake gunting kuku manusia, cukup dipotong ujung kuku yang runcing saja. Jangan terlalu banyak memotong kuku kucing, karena kalo kita nggak hati-hati bisa terkena bagian daging jari kucing plus kuku bisa retak.
from here














Pengalaman motongin kuku si Momo di petshop malah kegunting bagian quick nya, jadi berdarah lah  kuku dia. Sejak saat itu saya niat banget cari tau dan belajar caranya motong kuku kucing. Alhamdulillah dia pun anteng-anteng aja sih kalo dipotong kukunya.

Frekuensi potong kuku? Kalo kuku udah mulai panjang dan runcing.

3. Membersihkan telinga
bagi pemula, jangan coba-coba bersihkan telinga kucing pake cotton bud, karena kalo ga hati-hati malah melukai telinga kucing.
cara paling aman, pake kapas dan alkohol untuk membersihkan permukaan hingga telinga bagian dalam kucing.
kenapa alkohol?
karena alkohol dapat mengangkat kotoran dan kering dengan segera, jadi cairannya ga sampe masuk ke telinga kucing.


Oiya, setiap habis dilakukan treatment jangan lupa kasih makan atau elus si Puss yaa... itung2 reward karena dia udah nurut.

Sekian sharing dari saya tentang cara merawat kucing.
Semoga bermanfaat :)